Langsung ke konten utama

Menghadapi Perasaan




Akhir-akhir ini, aku selalu berpikir tentang bagaimana caranya menyikapi sebuah perasaan. Perasaan yang kadang terasa menggebu-nggebu seperti letupan petasan yang sangat sulit untuk kukendalikan. Kadang ia membuatku menekuk wajah, lalu bersedih, hanya karena ia ingin berkabung. Ya, hingga akhirnya aku paham, perasaan adalah bagian dari diri yang tak akan pernah terpisahkan. Meskipun kadang ia terlalu jujur sampai-sampai kita tidak punya kesempatan sama sekali untuk membohonginya. Sekalipun kita bersusah payah ingin menghindar dari apa yang ia pikirkan, ia akan terus memberontak dan membuat hari kita menjadi penuh tanda tanya.

Yang kutakutkan adalah, ketika perasaanku itu, sudah di luar batas wajar. Di mana ia menjadi terlalu sering bersedih hanya karena hamba-Nya, padahal penciptanya saja menjanjikan akan selalu ada. Iya, Dia Allah Yang Maha Segalanya, Zat Yang Maha Kaya. Atau mungkin, ia menjadi terlalu gembira, hingga tak bisa mengontrol diri sendiri dan jatuh pada satu sikap yang dinamai sombong. Padahal, semua itu datang dari-Nya, kita yang hanya dititipi kenapa masih sibuk menyombongkan?

Perasaanku itu, kadang ia suka egois. Bertindak semaunya hanya karena seorang manusia. Kadang bisa sampai membuatku senyum-senyum sendiri, atau bahkan sampai menangis.

Lalu aku menemukan cara paling ampuh untuk menyikapinya. Bagaimana? Dengan mempercayakan apapun kepada Allah, Dia Yang Menciptakan perasaan itu. Ketika perasaanku terlalu khawatir akan suatu hal yang belum tentu terjadi, aku ingat bahwa Allah adalah perencana terbaik di seluruh jagad raya. Jadi, untuk apa ia harus khawatir?

Ketika perasaanku terlalu sedih karena hal yang terjadi tak sesuai harapanku, aku ingat bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya. La Tahzan, Allah berkata. Jadi, untuk apa ia harus bersedih?

Atau mungkin ketika perasaanku terlalu kecewa karena suatu hal, aku ingat bahwa kecewa dihadirkan di hati manusia untuk sebuah alasan. Barangkali, Dia ingin melihat seberapa sabar kita dalam menjalani hidup dan proses. Jadi apakah ada alasan untuk kecewa bertahan begitu lama?

Lalu, kita tinggal berdamai dengan perasaan kita sendiri. Bilang kepadanya,

"Hei, kamu nggak boleh nakal ya. Kamu kan diciptakan Allah untukku, kamu juga harus mampu membawaku selalu berada di jalan Allah. Jangan terlalu gampang patah, ya, aku yakin kita bisa melewatinya bersama. Apapun itu, kan kita punya sebaik-baiknya pelindung, Allah Maha Melindungi, kan?"

Sekarang, pasrahkan segala urusan kepada-Nya. Pasrahkan hal-hal yang selalu kita khawatirkan kepada-Nya. Harusnya kita percaya pada rencana hebatnya kan? Kita hanya perlu sabar dan berproses bersama. Kelak, ketika apa yang kita inginkan tercapai, kita bisa menceritakan bagaimana sulitnya menangani perasaan dalam proses mencapainya.


Rini Khoirotun Nisa 
Yogyakarta, 17 Mei 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan dan Para Perindu

Hujan dan Para Perindu Ia jatuh, membawa kabar dari alam, Ia bilang, tuan senja sedang haru Ia menelusup, lewat jendela kaca kamar seorang perempuan, Ia pikir, perempuan itu sedang sendu Di tangannya ada selembar surat kulit kayu Yang tak henti dibaca sebagai penyalur rindu Sebagai pengingat perpisahan tanpa peringatan Yang membuatnya menjadi bisu Di mata perempuan itu, hujan selalu istimewa Suaranya menjelma menjadi musik penenang kalbu Rintiknya menjelma menjadi petrikor yang siap untuk dihidu Alirannya menjadi kurir pengantar berpaket-paket rindu Karena hujan adalah magis bagi para perindu Yogyakarta, Maret 2018. Rini Khoirotun Nisa

Memilih, Memutuskan, Mendoakan

Dia, laki-laki yang selalu kuceritakan itu, pernah menulis di laman sosial medianya, "Hidupmu sekarang ini adalah hasil pilihanmu di masa lalu, dan pilihanmu di masa kini menentukan bakal seperti apa hidupmu di masa depan. Sebab hidup itu adalah pilihan. Maka segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi adalah hasil daripada pilihan kita. Lalu hidup seperti apa yang akan kita pilih?" Satu paragraf singkat itu kembali membuatku merenung lagi pagi ini. Entah kenapa apa-apa yang disuarakan olehnya dapat dengan mudah melesat masuk ke kepalaku. Membuatku menjadi takut melewati batasan yang diberikan oleh-Nya. Aku takut akan terlalu memuji dan membanggakannya yang pasti jika kulakukan tidak akan baik hasilnya bagi aku, pun dia. Dia benar, hidup memang sebuah pilihan. Apa yang lewat, apa yang sedang, dan apa yang akan, semua ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita ambil. Keputusan-keputusan itu akan membawa kita kepada garis takdir yang s...

Menghargai Sebuah Kegagalan

Saya tipe orang yang suka mendengarkan cerita orang lain lalu menyemangati dan menguatkan mereka. Tapi ada satu waktu di mana nanti saya juga perlu dikuatkan. Ada waktu di mana saya akan ketakutan. Ketakutan tentang masa depan, kekhawatiran tentang cita-cita, apakah aku bisa meraih mimpiku atau tidak dan semuanya. Kegagalan demi kegagalan pernah saya alami dalam proses menggapai impian, hingga saya cukup akrab dengan rasa kecewa, tangis sedih sebab usaha terasa sia-sia, dan juga penerimaan terhadap semua perasaan itu. Pernah, dulu waktu SD, saya ikut lomba aksara jawa tingkat kabupaten. Kira-kira waktu itu kelas empat. Setiap hari saya berlatih di sekolah, bahkan di hari libur pun saya harus masuk sekolah dengan sepeda pink yang bahkan harus jatuh dengan memalukan ketika perjalanan menuju sekolah. Di hari lomba, saya telat datang, semua peserta sudah memulai mentranslitasikan aksara jawa di kertasnya masing-masing, sedang saya yang terburu-buru segera duduk dan mengejar lainnya...