Langsung ke konten utama

Bersembunyi




Jangan mencari aku di mana pun, kau tak akan menemukanku. Sejauh apapun kamu mencari, karena memang aku yang berniat untuk bersembunyi.

Di antara banyaknya manusia yang berlomba-lomba mengutarakan perasaan, memberi beberapa kode agar seseorang menyadari perasaannya, aku lebih suka seperti ini. Menyembunyikan diri dari kehidupanmu, hingga mungkin kamu lupa kalau kamu pernah bertemu manusia sepertiku. Aku lebih suka menyimpan rapat-rapat perasaan ini, lalu kutuangkan dalam prosa atau puisi yang merangkum semua tentangmu. Aku lebih suka membunuh mati rindu yang hadir, lalu menghidupkannya kembali ketika aku benar-benar ingin. Aku lebih suka membungkus rapat semua kenangan tentangmu, yang singkat, namun sangat berkesan, lalu sesekali kutengok ketika aku benar-benar perlu.

Tak apa, jika kau tidak menyadari keberadaanku. Aku justru senang, karena aku tak perlu menjadi orang lain dalam menyayangimu. Biar saja doaku yang mengenalmu. Biar saja Allah yang mengenalkanmu dengan doa-doa lirih yang setiap hari kupanjatkan. Merayu-Nya agar jika suatu hari nanti orang itu benar-benar kamu, kamu akan selalu dijaga dalam kebaikan dan dijauhkan dari kedzaliman.

Bukankah cara mencintai yang paling rahasia adalah dengan mendoakan?

Toh jika kelak orang itu benar-benar kamu, aku bisa menceritakan bagaimana sulitnya memilih diam di antara mayoritas perempuan yang mengejarmu. Bagaimana rasanya mencoba untuk tidak peduli disaat tanya tentang kabarmu diam-diam kucuri. Dan kalaupun orang itu kelak bukan kamu, aku juga tidak akan bersedih. Kita tidak harus selalu menang dalam memperjuangkan, kan? Karena hanya dengan bersembunyi aku mampu menyayangimu tanpa menjauhkanku dari Tuhanku.

Jika sekarang ada nama lain yang kau sebut dalam doamu, aku juga tak masalah. Allah punya semua cara untuk mengubah nama itu. Dan perasaan bukan barang dagangan yang bisa dibarter begitu saja, bukan? Sekarang, teruslah berjalan dalam garis waktumu. Aku pun demikian. Jika kelak Tuhan membiarkan kita berjalan dalam garis waktu yang sama, itu artinya Dia sudah menjawab setiap doa yang kuselipkan di setiap sujudku.


Rini Khoirotun Nisa,
Yogyakarta, 25 Mei 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan dan Para Perindu

Hujan dan Para Perindu Ia jatuh, membawa kabar dari alam, Ia bilang, tuan senja sedang haru Ia menelusup, lewat jendela kaca kamar seorang perempuan, Ia pikir, perempuan itu sedang sendu Di tangannya ada selembar surat kulit kayu Yang tak henti dibaca sebagai penyalur rindu Sebagai pengingat perpisahan tanpa peringatan Yang membuatnya menjadi bisu Di mata perempuan itu, hujan selalu istimewa Suaranya menjelma menjadi musik penenang kalbu Rintiknya menjelma menjadi petrikor yang siap untuk dihidu Alirannya menjadi kurir pengantar berpaket-paket rindu Karena hujan adalah magis bagi para perindu Yogyakarta, Maret 2018. Rini Khoirotun Nisa

Memilih, Memutuskan, Mendoakan

Dia, laki-laki yang selalu kuceritakan itu, pernah menulis di laman sosial medianya, "Hidupmu sekarang ini adalah hasil pilihanmu di masa lalu, dan pilihanmu di masa kini menentukan bakal seperti apa hidupmu di masa depan. Sebab hidup itu adalah pilihan. Maka segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi adalah hasil daripada pilihan kita. Lalu hidup seperti apa yang akan kita pilih?" Satu paragraf singkat itu kembali membuatku merenung lagi pagi ini. Entah kenapa apa-apa yang disuarakan olehnya dapat dengan mudah melesat masuk ke kepalaku. Membuatku menjadi takut melewati batasan yang diberikan oleh-Nya. Aku takut akan terlalu memuji dan membanggakannya yang pasti jika kulakukan tidak akan baik hasilnya bagi aku, pun dia. Dia benar, hidup memang sebuah pilihan. Apa yang lewat, apa yang sedang, dan apa yang akan, semua ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita ambil. Keputusan-keputusan itu akan membawa kita kepada garis takdir yang s...

Menghargai Sebuah Kegagalan

Saya tipe orang yang suka mendengarkan cerita orang lain lalu menyemangati dan menguatkan mereka. Tapi ada satu waktu di mana nanti saya juga perlu dikuatkan. Ada waktu di mana saya akan ketakutan. Ketakutan tentang masa depan, kekhawatiran tentang cita-cita, apakah aku bisa meraih mimpiku atau tidak dan semuanya. Kegagalan demi kegagalan pernah saya alami dalam proses menggapai impian, hingga saya cukup akrab dengan rasa kecewa, tangis sedih sebab usaha terasa sia-sia, dan juga penerimaan terhadap semua perasaan itu. Pernah, dulu waktu SD, saya ikut lomba aksara jawa tingkat kabupaten. Kira-kira waktu itu kelas empat. Setiap hari saya berlatih di sekolah, bahkan di hari libur pun saya harus masuk sekolah dengan sepeda pink yang bahkan harus jatuh dengan memalukan ketika perjalanan menuju sekolah. Di hari lomba, saya telat datang, semua peserta sudah memulai mentranslitasikan aksara jawa di kertasnya masing-masing, sedang saya yang terburu-buru segera duduk dan mengejar lainnya...