Langsung ke konten utama

Dear Mr. Retrouvailles




Dear Mr. Retrouvailles.

I hope this letter will find you and find you well.
I’m writing this letter to tell you how much I thank you.

You made me feel alive for one more time. For the longest time, I’ve never felt that way, and you, out of the blue, came and gave me something that I’ve lost in a long time ago. Lately there is this tune that reminds me of you and I play it over and over again. Even when the song is over, the melody lingers on. Stuck in my head. Like the voice of the heart, it warms me in a way I can’t describe.

I barely even know you. You know that pretty well and everybody knows it. Oh no, no, I won’t tell you about how love is blind and love is irrational and all. But really, I lost my mind the time we talked for the very first time. That was something I couldn’t describe to myself as well. I don’t care what people think. They can talk funny abouit it and let leave it at that.

I know you don’t want to fall in love or at least you don’t let yourself to. Or maybe I am not the right one for you and you don’t feel the same as I do. Love is tricky, you know.

Anyway, this is not a love letter. So, I won’t tell you about how actually you did make the butterflies in my tummy dance when you looked at me. And how you made my heart feel warm when I read your words. No, no, I won’t tell you stuff like that. But actually, I want you to know. And you made me happy, really, really, really happy when you prayed for my team and I. I was happy, that was the best moment in my life. But I don’t want to sound cheesy, though. You can skip this part.

Thanks to you, of course, you made me really happy and I couldn’t stop smiling. Every morning I wake up feeling so happy that I start dancing to the possibilities of meeting you again for one more time.

Hey, Mr. Retrouvailles, I really hope we can meet again some sunny days. But I really can’t do anything about it. Maybe in your place there is some hard things happening or, I don’t know, maybe you just can’t get out of that even when you miss your family so bad. But I do wish you are fine there and everything is warm and nice and you can eat good food and have a cup of sweet tea.

Thank you for letting me feel excited about life, about things that matters. And give me another reason to be happy. I do wish we had one more chance to talk about life. About yours, mine, and the possibilities of ours. I wish you all the good luck in the world for anything exciting that awaits you. Thank you for that brief moment you gave me and the aftertaste. It was sweet and nice.

And that’s all I can write to you. Sorry I can’t write a decent letter. I wish I could write nicely like what Napoleon Bonaparte wrote to Josephine. But okay, whatever, hope you will get the messages, though.


Warmly,
Rini Khoirotun Nisa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan dan Para Perindu

Hujan dan Para Perindu Ia jatuh, membawa kabar dari alam, Ia bilang, tuan senja sedang haru Ia menelusup, lewat jendela kaca kamar seorang perempuan, Ia pikir, perempuan itu sedang sendu Di tangannya ada selembar surat kulit kayu Yang tak henti dibaca sebagai penyalur rindu Sebagai pengingat perpisahan tanpa peringatan Yang membuatnya menjadi bisu Di mata perempuan itu, hujan selalu istimewa Suaranya menjelma menjadi musik penenang kalbu Rintiknya menjelma menjadi petrikor yang siap untuk dihidu Alirannya menjadi kurir pengantar berpaket-paket rindu Karena hujan adalah magis bagi para perindu Yogyakarta, Maret 2018. Rini Khoirotun Nisa

Memilih, Memutuskan, Mendoakan

Dia, laki-laki yang selalu kuceritakan itu, pernah menulis di laman sosial medianya, "Hidupmu sekarang ini adalah hasil pilihanmu di masa lalu, dan pilihanmu di masa kini menentukan bakal seperti apa hidupmu di masa depan. Sebab hidup itu adalah pilihan. Maka segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi adalah hasil daripada pilihan kita. Lalu hidup seperti apa yang akan kita pilih?" Satu paragraf singkat itu kembali membuatku merenung lagi pagi ini. Entah kenapa apa-apa yang disuarakan olehnya dapat dengan mudah melesat masuk ke kepalaku. Membuatku menjadi takut melewati batasan yang diberikan oleh-Nya. Aku takut akan terlalu memuji dan membanggakannya yang pasti jika kulakukan tidak akan baik hasilnya bagi aku, pun dia. Dia benar, hidup memang sebuah pilihan. Apa yang lewat, apa yang sedang, dan apa yang akan, semua ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita ambil. Keputusan-keputusan itu akan membawa kita kepada garis takdir yang s...

Menghargai Sebuah Kegagalan

Saya tipe orang yang suka mendengarkan cerita orang lain lalu menyemangati dan menguatkan mereka. Tapi ada satu waktu di mana nanti saya juga perlu dikuatkan. Ada waktu di mana saya akan ketakutan. Ketakutan tentang masa depan, kekhawatiran tentang cita-cita, apakah aku bisa meraih mimpiku atau tidak dan semuanya. Kegagalan demi kegagalan pernah saya alami dalam proses menggapai impian, hingga saya cukup akrab dengan rasa kecewa, tangis sedih sebab usaha terasa sia-sia, dan juga penerimaan terhadap semua perasaan itu. Pernah, dulu waktu SD, saya ikut lomba aksara jawa tingkat kabupaten. Kira-kira waktu itu kelas empat. Setiap hari saya berlatih di sekolah, bahkan di hari libur pun saya harus masuk sekolah dengan sepeda pink yang bahkan harus jatuh dengan memalukan ketika perjalanan menuju sekolah. Di hari lomba, saya telat datang, semua peserta sudah memulai mentranslitasikan aksara jawa di kertasnya masing-masing, sedang saya yang terburu-buru segera duduk dan mengejar lainnya...